Apa Benar Ibu Tak Boleh Bilang “Jangan” Pada Anak?

Rabu, 20 Maret 2019

Cara berkomunikasi dengan anak memang unik. Ada beberapa aturan yang akrab dengan orang tua sejak dulu. Contoh, orang tua tidak boleh bilang “jangan" pada anak. Kenapa? Pertama, katanya semakin dilarang, anak semakinpengen coba-coba. Selain itu, kata “jangan” bisa menimbulkan perasaan negatif, seperti tersinggung, marah, anak akan menganggap orang tua otoriter, dsb. 

 

Tapi benarkah itu? Selama masih memungkinkan, memang sebaiknya kata “jangan” dihindari orang tua. Namun aturan itu tidak kaku, terutama ketika Ibu yakin kalau bilang “ya” justru dapat membahayakan atau merugikan Anak Baik. 

 

Lalu bagaimana agar Anak Baik mau menerima saat Ibu bilang “jangan”? Ini dia tipsnya:

 

1. Katakan “Jangan” Tetapi Jelaskan Mengapa

Anak Baik bukan anak balita lagi. Mereka tidak bisa begitu saja menerima larangan tanpa alasan logis. Berpikirlah sejenak sebelum mengatakan “jangan” dan munculkan alasan kuat yang mendukung keputusan itu. 

 

2. Bersikaplah Sopan dan Wajar

Saat Ibu tidak setuju dengan pendapat Anak Baik, bukan berartiharus menolak dengan kasar atau marah-marah, bukan? Katakan “jangan” dengan sopan sehingga si praremaja tidak merasa sakit hati. Contoh, "Ibu minta maaf,tapi Ibu tidak bisa membiarkan Kakak melakukan ini," atau,"Ibu mengerti situasi Kakak sepenuhnya, tetapi Ibu tidak bisa memberikannya kepada Kakak." 

 

3. Pertimbangkan dari sudut pandang anak

Biarkan si praremaja membeberkan suatu masalah dari sudut pandangnya,sebelum Ibu memutuskan untuk mengatakan “jangan” atau “ya.” Beberapa orang tua langsung mengatakan “jangan”tanpa mendengarkan apa yang dikatakan anak. Hal ini bisa membuat anak sebel dan merasa Ibu tidak peduli dengan pendapat/perasaan mereka. Dengarkan mereka terlebih dahulu, baru minta waktu untuk berpikir sebelum akhirnya mengatakan “jangan”jika memang perlu.

 

4. Tetap Tenangtapi Tetap Tegas

Beberapa anak bisa marah atau justru meneteskan air mata untuk membuat Ibu lumer dan mengabulkan permintaannya. Di saat seperti ini Ibu harus tetap tenang tetapi tegas. Kalau memang tidak, ya… tidak, tak perlu mengubah keputusan. Jika Ibu lumer,  anak bisa tidak menganggap keputusan Ibu dengan serius lagi.

 

Penulis: Hanny

Editor: admin

Tags: