Salah Memuji, Bisa Membuat Anak Suka Berbohong

Rabu, 10 Juli 2019

Apa pun yang berlebihan tidak akan baik, bukan begitu Bu? Nah, ini termasuk soal memuji anak. Bukan berarti tidak boleh memuji,ya. Anak-anak membutuhkan pujian untuk meningkatkan harga diri, memotivasi mereka, dan mendorong perilaku positif tertentu. Tapi,ya… itu tadi, kalau berlebihan atau salah cara, pujian malah bisa menjadi bumerang yang merugikan buah hati.

            

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kang Lee, profesor di Institut Ontario, Universitas Toronto, Kanada. Lee menemukan,anak-anak prasekolah di Cina yang sering mendapat pujian "sangat pintar" lebih mungkin untuk berbuat curang dalam permainan, daripada anak-anak yang dipuji  kalau mereka telah melakukan sesuatu dengan cukup baik  atau malah tidak dipuji sama sekali.

            

Menurut Lee, anak-anak yang selalu dipuji bahwa mereka “pintar” atau “hebat”, bisa merasa tertekan. Mereka merasa harus unggul setiap saat dan menjadi takut gagal serta khawatir mengecewakan orang tua atau guru mereka.  

 

“Ketika anak-anak takut gagal, mereka cenderung berbuat curang untuk memenuhi harapan yang dirasakan tinggi,” jelasnya.

            

Karena itulah, ketika memuji anak, orang tua harus berusaha menghindari penggunaan label seperti,pintar,  hebat, jago, brilian, dsb. Jadi seperti apa sebaiknya cara memuji anak? Ini diasebaiknya cara memuji anak:

 

Pujian harus tulus dan jujur

Contohnya, “Terima kasih Kakak mau repot-repotmembuat kue ini". Pujian ini akan jauh lebih baik daripada "Ini adalah kue paling enak yang pernah Ibu makan!" Bila terlalu sering diucapkan, pujian tidak tulus akhirnya tidak akan berarti apa-apa bagi anak, bahkan bisa membuat Ibu kehilangan kredibilitas.

 

Spesifik dan deskriptif

Komentar spesifik dan deskriptif menandakan Ibu memerhatikan dan benar-benar peduli, seperti  “Ibu suka cara Kakak memakai warna hijau itu, sepertinya itu teknik menggambar Kakak yang baru, ya?”. Jadi tak sekadar ,“Gambar Kakak kerenluar biasa!”  

 

Puji usaha dan proses, bukan kemampuan

Ketika dipuji usahanya, anak akan belajar menghubungkan keberhasilan dengan usaha mereka. Di sisi lain, anak yang dipuji karena kemampuannya lebih mementingkan kesuksesan daripada kemampuannya. Untuk itu berikan pujian seperti  “Ibu lihat Kakak bisa dapat nilai 100 karena belajar lebih giat untuk ulangan ini!”  daripada hanya, “Anakku memang pinter banget.” 

            

Pujian seperti pedang bermata dua. Jika digunakan dengan benar bisa menjadi kekuatan dan motivasi bagi anak. Namun pujian kontraproduktif dapat menciptakan citra diri berlebihan dan memunculkan berbagai efek negatif, seperti suka berbohong.

 

Penulis: Hanny

Editor: admin