Cara Ibu Bertanya agar Anak Mau Bercerita

Jumat, 8 Maret 2019

Bertanya pada anak memerlukan seni tersendiri. Pertanyaan perlu diajukan seperti tidak bertanya dan tidak membuat anak tersinggung. Kedengarannya ribet, ya? Enggak, kok, Bu. 

 

Cara Bertanya Tentang Pelajaran

Prinsip utamanya, jangan ajukan pertanyaan yang membuat anak bersikap defensif. Seperti,“Kenapa ulangan Kakak selalu jelek,sih? Memangnya enggak belajar?” Nah, pertanyaan seperti ini hanya akan menimbulkan konflik, bukan solusi. Sebagai gantinya, buat pertanyaan yang tidak membuat anak merasa dipojokkan.

Contoh: “Ibu lihat ulangan IPA Kakak dapat 5, padahal Kakak sudah belajar semalaman,ya?” Biarkan Anak Baik melihat bahwa Ibu percaya padanya dan tidak marah karena dia sudah berusaha. Lalu, tanyakan solusi dia untuk memecahkan masalahnya itu. "Kakak punya ide supaya ulangan IPA-nya bisa di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)? 

Jika dia bilang tidak tahu, tawarkan beberapa cara,dan tanyakan yang mana yang cocok untuknya. “Bagaimana kalau les? Atau, Youtube punya materi-materi IPA menarik yang bisa Kakak tonton,lho, mungkin Kakak bisa belajar dari sana!” Biarkan dia memilih cara terbaik dalam sudut pandangnya.

Keyakinan Ibu pada kemampuan Anak Baik untuk menyelesaikan masalahnya sendiri itu akan mengembangkan kepercayaan diri anak. Namun, pastikan anak tahu bahwa Ibu selalu ada untuk membantunya, jika diperlukan,dan siap diajak bicara kapan pun. 

 

Cara Bertanya Tentang Keseharian di Sekolah

Jika Ibu “kepo” tentang keseharian anak di sekolah, obrolan ringan sambil lalu akan membantu percakapan, “Di kelas, siapa, sih, teman Kakak yang paling lucu?” Atau, “Siapa guru yang paling disebelin sama temen-teman di sekolah, kenapa?” Pertanyaan memang perlu diajukan sekreatif mungkin. Untuk mengetahui perasaan Anak Baik, sambil memperlihatkan smartphone, Ibu bisa berkata, “Kakak pilih emoji yang mana untuk menggambarkan perasaan Kakak hari ini. Marah? Apa ada sesuatu di sekolah tadi, Sayang?” Emoji merupakan berbagai gambar ekspresi wajah, seperti tersenyum, marah, sedih, dll, yang umumnya ada di smartphone.

Ibu juga perlu mempertimbangkan momen yang tepat untuk bertanya. Hindari bertanya saat anak sedang terburu-buru atau melakukan suatu kegiatan. Percakapan spontan saat santai di mobil, atau di rumah saat menonton bersama, dapat menjadi momen yang hangat untuk bercakap-cakap. 

Percayalah, anak-anak akan lebih terbuka bercerita, jika mereka tidak merasa tertekan, Bu. Yuk, coba terapkan cara-cara bertanya kepada anak di atas, setelah mereka pulang sekolah nanti!

 

Penulis: Hanny

Editor: admin

Tags: